Dedy_the Giant from Palembang

life is do life !!

Hilangnya Dua Ilmu di Era Kemerdekaan

Hilangnya Dua Ilmu di Era Kemerdekaan

Oleh:

Dedy Purwanto

Aktivis PPI se-Malaysia, Mahasiswa S2 Universiti Teknologi PETRONAS Malaysia

Bulan Agustus datang kembali. Mungkin banyak yang belum mengetahui bahwa ternyata bulan ini tidak hanya spesial bagi rakyat Indonesia, tapi juga bagi negeri jiran, Malaysia. Indonesia memperingati hari kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus, sedangkan Malaysia pada tanggal 31 Agustus. Sungguh suatu kebetulan yang menarik: dua negara yang bersahabat dan sangat dekat baik secara geografis maupun budaya masyarakatnya ternyata merdeka dalam bulan yang sama. Dalam segi usia, Indonesia memang lebih senior dibandingkan Malaysia. Tahun ini merupakan ulang tahun emas (50 tahun) mereka dan ulang tahun kita yang ke-62.

Namun Anda pasti sudah bisa menerka, kalimat selanjutnya dari tulisan saya ini. Ya! Mengapa kita yang lebih berpengalaman (senior) ini malah jauh tertinggal dalam kemajuan ekonomi, teknologi, dan bidang lainnnya. Data UNDP 2003 menunjukkan, dalam World Economic Forum (103 negara), Indonesia berada pada peringkat 72 sementara Malaysia pada peringkat 29. Sungguh menggelisahkan, rakyat yang serupa (perawakan fisik, bahasa, dan budaya), namun bernasib berbeda. Padahal kemerdekaan yang berhasil kita raih jauh lebih terhormat dan heroik. Berapa banyak tulang-tulang yang berserakan (meminjam puisi Chairil Anwar) dan darah-darah segar mujahid-mujahidah yang mengalir di tangan agresor untuk mempertahankan tanah air sehingga akhirnya proklamasi kemerdekaan pun berkumandang. Berbeda dengan negara Mahathir yang merdeka hanya dengan melalui jalur diplomasi dan perjanjian.

Sudah saatnya kita berpikir objektif di usia negara kita yang sudah uzur ini. Apa sebenarnya penyebabnya hingga rakyat pun menderita berkepanjangan hingga sekarang. Tun DR Mahathir Muhammad dalam ceramah hari kemerdekaan Malaysia (13/08/07) di Universiti Teknologi PETRONAS, Malaysia, menyampaikan bahwa korupsi telah menjadi budaya dan hal yang biasa di ‘negara-negara tertentu’.  Walaupun dengan menggunakan kata jamak, peserta yang hadir pada acara tersebut termasuk saya dapat langsung menginterpretasikan bahwa yang dimaksud adalah negara kita, Indonesia. Beliau mengingatkan bahwa negara tidak akan maju jika dipimpin oleh para koruptor. Perbaikan moral merupakan solusi yang beliau sajikan untuk menghadapi isu korupsi.Ada benarnya memang solusi yang  yang beliau sampaikan. Namun seperti apa detilnya nampaknya menjadi bias dan setiap orang akan mempunyai tafsir yang berdeda-beda. Untuk bangkit menjadi negara maju, saya mengambil referensi dari ajaran Islam. Di dalam Islam, ada dua kategori ilmu yang bersumber dari Tuhan dan harus dikuasai oleh manusia agar selamat dan bahagia dunia-akhirat. Ilmu ini juga yang akan menjelaskan bagaimana negara-negara barat dapat maju dari segi tertentu dan terbelakang dari segi yang lain dan juga bagaimana Malaysia dapat lebih maju dari Indonesia.Pertama adalah ilmu kauliyah, adalah ilmu tertulis yang langsung bersumber dari Tuhan yaitu Al-Quran dan Hadist Nabi. Malaysia yang mendeklarasikan dirinya sebagai negara Islam masih memegang kuat ilmu ini dan rata-rata masyarkatnya pun lebih mematuhi perintahNya dibandingkan dengan masyarkat Indonesia. Di sekolah-sekolah serta instansi publik dan pemerintah, bisa dilihat bagaimana caranmereka berpakaian. Mereka masih sangat mencintai budaya melayu yang sangat dekat dengan budaya Islam. Sehingga kesantunan dan moral pun lebih berwarna di tanah para sultan ini. Sehingga nampaknya rahmat Allah pun lebih melimpah di Malaysia seiiring dengan tetap dipegangnya kecintaan negara dan masyarkatnya terhadap Islam. Sementara di tanah air kita, simbol-simbol Jawa ala Majapahit lebih disukai menjadi keunikan yang tidak terlalu berarti. Lihat saja, saat pertama kali seorang asing menginjakkan kaki di bandara ibukota Jakarta, patung khas Majapahit akan menyambut tamu yang datang ke pusat negara. Sehingga seakan-akan kebudayaan lain bukan bagian dari Indonesia. Saya tidak bermaksud tidak mengizinkan Majapahitisme, tapi mengingatkan bahwa aneka kekayaan budaya lain jangan dibiarkan mati. Kedua, kauniyah. Yakni ilmu yang bersumber dari Allah dan ‘tertulis’ di alam semesta:  tubuh manusia, laut, daratan, hingga luar angkasa. Umat  muslim seharusnya juga menyadari bahwa ilmu ini juga menjadi kewajiban untuk dipelajari dan diamalkan. Maka wajarlah negara barat lebih maju dalam teknologi dan ekonomi di mana ilmu ini benar-benar maereka kuasai. Nilai-nilai positif seperti disiplin, good governance  yang bersumber dari akal ciptaan Tuhan pun mereka kuasai. Namun masyarkat barat mundur dalam hal sosial dan spiritual (didapat dari sumber kauliyah). Sehingga mereka tidak mempunyai pegangan dan tujan hidup yang jelas, akhirnya kehampaan hidup pun mendera. Angka bunuh diri, minuman, keras, seks bebas pun menjadi citra buruk mereka di mata dunia.Sungguh indah sebenarnya Islam yang mencakup keseluruhan dalam segenap segi kehidupan. Sehingga mereka yang mengamalkannya dengan benar mempunyai pedoman yang sempurna. Sementara kita di Indonesia telah meninggalkan kedua ilmu tersebut. Di negara kita bisa dilihat jika ada pemimpin yang mencoba memperbaiki moral masyarakat dengan kebijakan pelarangan pelacuran, minuman keras, hiburan malam bermasalah yang dekat dengan narkoba dan AIDS, maka penentangan terhadap kebijakan tersebut akan muncul. Dengan dibantu oleh media, kalangan ekstrimis liberal yang sangat tidak demokratis karena terlalu taklid buta dengan islamophobia nampaknya memang telah berperan besar dalam penghancuran tatanan masyarakat yang ingin kembali pada nilai-nilai moral yang universal. Sehingga RUU APP (Anti Pornografi-Pornoaksi) yang dapat melindungi anak-anak penerus bangsa dari buaian lamunan keindahan seksual yang terlalu dini pun masih terkatung-katung nasibnya di tangan-tangan wakil rakyat di parlemen. Nampaknya umat muslim Indonesia benar-benar telah mengalami tirani mayoritas sehingga tidak dapat mengamalkan ajaran agamanya dengan tenang dan sempurna.Ilmu kauliyah tidak di tangan, ilmu kauniyah pun melayang. Dalam hal Human Developemnt Index (HDI)) misalnya, data UNDP 2003 juga menunjukkan Indonesia berada pada peringakt 110 dari 175 negara. Lalu, melihat kondisi seperti ini, dapatkah kita mengambil pelajaran di hari kemerdekaan ini? Mahathir Muhammad masih dalam kesempatan yang sama, dalam menjawab sebuah permintaan peserta untuk memberikan pesan terhadap Indonesia, mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan tidak hanya satu, tapi ratusan pemimpin yang tidak mementingkan diri sendiri. Tentunya pemimpin ini adalah pemimpin devotis (mengabdi) yang mengerti makna penciptaan dirinya untuk menjadi khalifah dan mengabdi pada Allah SWT dengan secara komprehensif menjaga keseimbangan pengamalan imu kauliyah dan kauniyah. Sehingga Allah pun cinta kita dan kita menjadi maju karena mengambil sudut maju positif barat dan timur bukan sebaliknya malah mengambil sudut terbelakang barat belaka.  

August 19, 2007 - Posted by dedypalembang | Uncategorized | | 1 Comment

1 Comment »

  1. Salam

    Pembahasan yang menarik lagi disini saudara dedy.

    Para pemimpin Indonesia memang egois, mementingkan idndividunya (politik), dll, termasuklah didalamnya Presiden, sampai ketua yang lain.

    Saya masih ingat lagi ucapan dari Dr Mahathir ketika beliau meletak jawatan sebagai PM. Yang kurang lebih intinya begini, ‘Bung Karno masih lebih hebat karena dapat memimpin bangsa Indonesia yang luas dan besar, sedangkan Malaysia hanya daerah yang lebih kecil’.

    Kenapa saya kepilkan pernyataan di atas. Karena saya ingin menunjukkan betapa susahnya memang Indonesia memiliki wilayah yang luas dan terpisah lautan ini. Ditambah lagi dengan kehancuran akhlak para pemimpin tersebut.

    well. Soal pelaksanaan Islam di Malaysia memang ‘kelihatan’ lebih kental. Dan saya juga bersyukur karena saya dapat lebih dekat dengan Allah karena saya belajar disini. Itu saya akui. Dan mungkin betul apa yang saudara Dedy katakan, “Jadi Allah lebih melimpahkan Rahmat Nya kepada Malaysia”.

    Disini saya hanya ingin menyampaikan kepada pemimpin dan rakyat Indonesia. Tolonglah kita merubah bangsa kita, cara pandang kita, pribadi kita ke arah lebih baik, Kuatkan akhlak kita masing-masing, sehingga insya Allah bangsa kita pun dapat menjadi superior dalam ekonomi, kebudayaan, olahraga, dll dan yang lebih penting menjadi superior di mata Allah swt. Amin

    Maaf kalau ada kata-kata salah.

    Wassalam

    Comment by awank | August 28, 2007 | Reply


Leave a comment