Dedy_the Giant from Palembang

life is do life !!

Renungan di Hari Pendidikan

Renungan di Hari Pendidikan

 

Oleh: Dedy Purwanto

Pendiri ALIEV English School, sedang S2 di Universiti Teknologi PETRONAS Malaysia

2 Mei kembali datang. Momen ini sungguh tepat bagi Indonesia untuk kembali merenung dan bermuhasabah diri bagaimana sebenarnya sektor pendidikan telah berperan dalam jalan menuju kebangkitan dan bagaimana pula langkah yang harus dilakukan untuk perbaikan ke depan.

Mungkin kita sudah bosan menyampaikan bahwa sektor inilah sebenarnya yang menjadi kunci utama penggerak kemajuan. Namun perhatian yang besar terhadapnya seperti yang dijanjikan pemimpin–pemimpin bangsa ini dalam setiap kampanye pemilu, pilpres, atau pilkada belum juga dapat direalisasikan. Padahal pendidikanlah yang melahirkan insan-insan Indonesia baik pengusaha dan penguasa, bumiputra dan tionghoa, pemimpin dan rakyat, maupun keluarga cikeas dan cendana. Mereka inilah gambaran umum siapa-siapa saja yang mempunyai pengaruh besar sekaligus penentu arah perubahan bangsa. Generasi kemarin, sekarang, dan mendatang juga tentu dilahirkan dari sektor ini. Maka sudah sepantasnya kita kembali merumuskan sudah berhasilkah pendidikan kita membentuk manusia-manusia tangguh untuk bangsa ini? Nampaknya untuk pertanyaan ini, kebanyakan dari kita sepakat menjawab belum. Lalu marilah kita merenung dan mengevaluasi secara jujur seperti apa sebenarnya manusia Indonesia yang telah ‘diproduksi’ oleh sektor pendidikan selama ini.

            Mohd Azmi Abdul Hamid, Presiden Teras Pengupayaan Melayu (TERAS) Malaysia, dalam kuliah umum (25/04/07) mengenai Free Trade Agreement (FTA) di Univesiti Teknologi PETRONAS (UTP) Malaysia, menyampaikan bahwa manusia di dunia saat ini sudah terpengaruh oleh materialisme, individulisme, dan komersialisme. Menurut pendapat saya, tiga hal ini pun dengan tepat menggambarkan sifat manusia Indonesia. Pertama adalah materialistis. Kesuksesan dan kebahagiaan hidup diukur dengan berapa jumlah mobil yang terparkir di halaman rumah, seberapa besar rumah yang didiami, asesoris dan perhiasan apa yang melekat di anggota badan, atau seberapa canggih telepon genggam yang dipegang. Secara tidak sadar, telah terjadi perbedaan status sosial berdasarkan banyak sedikitnya harta. Maka setiap orang pun berlomba-lomba mendapatkan harta sebanyak mungkin.

            Kedua adalah individualis. Saya menamakannya dengan sifat ke’aku’an: yang penting aku selamat, aku sukses, aku menang, aku bahagia, aku mapan, aku juara, dan aku kaya. Manusia individualis merasa dirinya harus diutamakan terlebih dahulu dalam mencapai segalanya walaupun terkadang harus mengorbankan orang lain, masyarakat, bahkan rakyat, bangsa, terlebih agama. Kemiskinan, penindasan, huru-hara yang terjadi di sekitarnya tidak menjadi masalah baginya asalkan ia selamat. Akibatnya kepedulian sosial terhadap sesama semakin merosot.

            Ketiga adalah komersialis. Semua hal dinilai dengan uang. Salah satu ilustrasinya adalah saat lulusan SMU memilih kuliah di bidang teknik bukanlah dengan tujuan untuk berkontribusi pada masyarakat dalam bidang teknologi melainkan karena bidang teknik dinilai memiliki prospek masa depan yang cerah dan menjanjikan dalam bursa kerja. Memilih fakultas kedokteran pun bertujuan untuk mencapai status sosial yang tinggi dan kemewahan , bukan untuk mengabdikan diri dengan membantu orang-orang yang sakit supaya dapat tertolong dengan baik. Begitu juga dengan pilihan menjadi PNS, polisi, TNI, arsitek, bahkan guru, semata dilakukan hanya untuk meraih apa yang disebut comfortable zone.

            Lebih buruknya lagi, ketiga sifat ini ternyata juga melekat di kalangan pemimpin bangsa ini. Keteladan pun sirna. Maka wajarlah jikalau negara ini belum juga bangkit karena sang pemimpin tidak ikhlas sepenuhnya untuk mengabdikan diri bagi rakyatnya. Indonesia pun menjadi negara salah asuhan karena mereka lebih mendahulukan kepentingan-kepentingan pribadi, keluarga, dan kelompoknya. Kesan penakut, setengah-setengah pun masih melekat pada presiden. Walaupun baru-baru ini beliau membantah dirinya penakut, namun kenyataan telah berkata tidak seperti mulut manisnya yang bicara. Pesta pernikahan putranya yang megah nan mewah ditambah lagi dengan memanfaatkan fasilitas negara (istana bogor) cukuplah menjadi rekaman kuat kita bersama untuk me‘rapot-merah’kannya dalam sejarah kepemimpinan bangsa. Itulah yang terjadi jika harta, uang, dan kekuasaan menjadi tujuan bukan sarana pengabdian Apakah beliau tidak belajar dari Umar Ibnu Khattab yang rumahnya untuk dikatakan sederhana saja tidak layak?.

            Sebelum dilanjutkan, sebagai rakyat, saya memohon maaf jika bahasa tulisan ini terlalu fulgar walalupun saya sudah berusaha untuk meminimalisasi kefulgaran itu. Namun inilah salah satu wujud pengabdian saya dengan prinsip saling mengingatkan sehingga dapat menjadi bahan renungan. Pemimpin bangsa yang dewasa dan open mind tentu akan menyikapi setiap kritikan seperti ini dengan bijaksana.

            Sebenarnya tidak hanya presiden, kebanyakan –alhamdulillah masih ada yang berdedikasi- elit (wapres, menteri, ketua MA, gubernur, dan walikota) masih terjebak dalam lingkaran setan: materialis, individualis, dan komersialis. Masalah kepemimpinan inilah sebenarnya yang menjadi akar permasalahan bangsa. Ketika pemimpin sudah kehilangan hati nurani dan sifat devotis, usaha apapun untuk perbaikan bangsa ini akan sulit berhasil.

Devotis

            Devotis sendiri berasal dari kata dalam bahasa Inggris: devote, mengabdi. Manusia devotis selalu berpikiran bagaimana hidupnya diabdikan untuk Tuhannya. Turunan dari pengabdian pada Tuhan ini akan menjadi dorongan yang besar untuk tidak pernah menyia-nyiakan segala potensi yang dimilkinya baik harta, ilmu, waktu, dan kekuasaan dalam rangka menjemput kematian yang indah. Sehingga niat-niat untuk menumpuk harta, mempertahankan kekuasaan berusaha dibuang sejauh-jauhnya dari hati. Kepentingan, tekanan, dan intervensi negatif dari luar juga akan disikapi dengan tegas oleh pemimpin devotis. Ini mungkin terkesan idealis dan aneh bagi insan Indonesia era sekarang yang sudah sangat dipengaruhi materialisme, indivdulaisme, dan komersialisme.

Devotis dalam Islam

            Terkait devotis dan kempimpinan, Islam sudah sejak lama mengajarkan pada umatnya tentang misi penciptaan manusia. Pertama adalah untuk menjadi pemimpin di muka bumi (Q.S Al Baqarah:30). Tuhan memberikan akal dan ilmu pengetahuan kepada manusia untuk selanjutnya digunakan sebesar-besarnya untuk kebutuhan dan kesejahteraan umat manusia di muka bumi. Kedua adalah untuk mengabdi kepada Allah (Q.S Az-zariyat:56). Manusia sadar sepenuhnya bahwa dirinya tidak memiliki daya dan upaya tanpa pertolongan Allah sehingga ia akan secara penuh menghambakan diri padaNya.

Kedua hakikat penciptaan inilah sebenarnya yang harus ditanamkan kepada insan Indonesia melalui sekolah-sekolah. Perubahan mendasar perlu dilakukan pada kurikulum, tujuan dan model pengajaran sehingga semua insan mengerti untuk apa dia menuntut ilmu dan hidup di dunia. Sekolah bukan hanya untuk mengejar nilai Ujian Nasional (UN) yang bagus, sekolah dan universitas favorit, atau juga pekerjaan dan kehidupan yang mapan. Namun mereka harus diajarkan bahwa tujuan dari semuanya adalah untuk pengabdian kepada Tuhan lalu diturunkan menjadi pengabdian mulia terhadap bangsanya. Sekali lagi, bangsa yang sedang sakit dan butuh kerja keras ini membutuhkan mereka, manusia devotis!    

    

August 19, 2007 - Posted by dedypalembang | My-opinion, Uncategorized | | 1 Comment

1 Comment »

  1. ar’asy

    Comment by abdul | June 16, 2009 | Reply


Leave a comment