Dedy_the Giant from Palembang

life is do life !!

Intra-Civilization Indonesia Malaysia

Intra-Civilization Indonesia Malaysia

Email: dedy.purwanto@gmail.com Mobile: +6013 4407660

 

‘Peringatan 50 Tahun Merdeka-Hubungan Malaysia Indonesia’ digelar selama satu minggu (17-21/07/07) di Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia. Acara ini diakhiri dengan pemberian gelar Doktor Honoris Causa kepada Wapres-RI, Jusuf Kalla, oleh Universiti Malaya. Hubungan kedua negara memang sudah dijalin sejak lama. Kesultanan beberapa negeri (seperti propinsi) di Malaysia dibawa sejak lama dari daerah-daerah di Indonesia. Misalnya saja Kesultanan Selangor berasal dari Bugis, Melaka dibawa dari Palembang, dan jika kita berkunjung ke Negeri Sembilan, maka bahasa dan rumah adat khas Minang akan mewarnai perjalanan kita.

Namun sayangnya, hubungan kedua negara saat ini (baik level pemerintah maupun masyarakat) dirasakan sangat biasa-biasa saja, kalau tidak mau dibilang lesu. Bahkan cenderung negatif untuk jenis hubungan antar dua bangsa yang sudah seperti saudara kandung ini. Sebelum membahas hal apa yang seharusnya dilakukan kedua negara, saya terlebih dahulu mengungkapkan bahwa sebenarnya telah terjadi citra negatif Indonesia di Malaysia maupun sebaliknya. Sehingga hal ini dapat menjadi rujukan untuk mengadakan pemulihan citra dan akhirnya kesaling-pahaman.

 

Citra negatif di negeri jiran

Citra negatif Indonesia di Malaysia setidaknya diwakili oleh tiga hal. Pertama, bayangan tsunami Aceh, gempa Yogya, kecelakaan Adam Air dan Garuda, masih melekat dalam ingatan masyarakat Malaysia. Media di Malaysia pun seolah mendukung pencitraan ini dengan selalu menampilkan setiap pemberitaan tentang Indonesia dari sisi negatif saja. Kedua, tanpa bermaksud merendahkan para ‘pahlawan devisa’ (TKI), pengiriman TKI untuk kerja lapangan membuat harga diri Indonesia di mata masyarakat negeri Pa’ Lah itu menjadi rendah. Sehingga orang Indonesia terasosiasi sebagai imigran haram (ilegal), pekerja kasar, bahkan TKW dikenal sebagai pekerja sambilan (seks komersial). Tidakkah memalukan? Kata ‘Indon’ yang kerap digunakan untuk menyebut orang Indonesia bahkan dirasakan sebagian masyarakat Indonesia di Malaysia menyakitkan hati karena terkesan merendahkan. Ketiga, derasnya laju masuknya sinetron, film, dan lagu-lagu dari Indonesia yang sarat dengan glamour, percintaan cengeng anak muda , pakaian sekolah remaja yang kebarat-baratan alias seksi, telah membentuk persepsi bahwa masyarakat Indonesia sudah jauh tercerabut dari akar budaya timur, khususnya melayu yang masih dipegang kuat oleh masyarakat Malaysia.

Namun sebenarnya , masyarakat Malaysia tidak bisa sepenuhnya disalahkan, perlu dipertanyakan apakah yang kerap menindas TKI dan memanfaatkan ‘jasa terlarang’ TKI dan juga media yang menyajikan berita negatif tentang Indonesia tersebut benar-benar saudara kita yang ‘truly serumpun’ atau bukan. Terlepas iya atau tidak, yang jelas hal ini perlu didialogkan secara intensif.

Sementara di Indonesia, Malaysia dipandang tidak adil karena telah merebut Sipadan dan Ligatan, ditambah lagi dengan kasus Ambalat. Demonstrasi bertuliskan “Ganyang Malaysia, Selamatkan Siti Nurhaliza” di Indonesia pun pernah dilakukan terkait kasus ini. Tulisan ini cukup membekas di benak sebagian masyarakat Malaysia. Selain itu, kasus-kasus penindasan terhadap TKI yang sangat sering diberitakan media di Indonesia menyimpan sedikit kesinisan masyarakat Indonesia terhadap Malaysia.

Intra-Civilization

Kondisi seperti ini tidak boleh dibiarkan begitu saja tanpa ada inisiatif kuat dari salah satu atau kedua negara untuk memulihkan lalu memperkuat hubungan. Sudah saatnya dialog antar negara dalam satu peradaban (intra-civilization) digalakkan. Ini dikarenakan ternyata antar satu sama lain masih memendam perbedaan, perpecahan, ketidaksepahaman, bahkan malah permusuhan.

Selama ini Indonesia sudah sangat prestatif mengambil inisiatif dalam usaha perdamaian dunia dalam menjembatani dialog antar peradaban barat dan peradaban Islam. Saya tidak bermaksud merendahkan arti dialog antar peradaban, namun kita jangan sampai lupa untuk turut mengambil inisiatif untuk membangun perdamaian antar ummah dalam satu peradaban. Agaknya hal ini masih jarang dilakukan padahal sejarah telah mencatat telah banyak terjadi clash antar sesama negara muslim.

Kompetisi global yang penuh dengan tekanan negara-negara besar dan serakah pun mengharuskan negara-negara muslim bersatu untuk keselamatan dan kesejahteraan ummah. Indonesia-Malaysia, dengan karakteristik Islam moderat dan bersahabat baik dengan semua peradaban, sudah semestinya menjadi ‘ibu yang ikhlas’ bagi ummah di seluruh dunia. Langkah ini harus dimulai dengan terlebih dahulu membangun hubungan yang kuat Indonesia-Malaysia. Ini tidaklah susah mengingat letak geografis dan akar budaya yang sangat, bahkan teramat dekat.

Kedua negara tentunya terlebih dahulu harus memabangun kesepahaman yang lebih intens terkait isu-isu yang merugikan atau menyakiti satu sama lain. Sampai pada akhirnya menuju proses penguatan pembangunan bersama di bidang ekonomi, politik, dan hukum. Seperti itulah sejatinya dua saudara kandung yang saling mencintai layaknya Muhajirin dan Anshar pada zaman Rasulullah saw. Saya yakin jika usaha ini benar-benar dilakukan, kesatuan dua negara ini untuk maju bersama akan menjadi kekuatan besar di dunia dalam menghadapi tekanan para pesaing-pesaing, kalau tidak mau disebut musuh. Sungguh logis jika kita lebih intensif membangun kerja sama yang luas dengan Malaysia ketimbang dengan Singapura dan Amerika yang terbukti licin dan pembohong. Sebaiknya kita dapat lebih arif mengamati mana sahabat yang potensial untuk diajak saling ikhlas dalam menuju kemajuan bersama dan mana yang tidak. Karena tentunya kita sepakat bahwa negeri kita adalah negeri yang beradab dan hanya mau menjadi besar dengan suci, jujur, dan ikhlas. Betul?

August 21, 2007 - Posted by dedypalembang | My-opinion | | 4 Comments

4 Comments »

  1. Salam

    Hubungan yang baik antara Indonesia-Malaysia

    Pembahasan yang menarik disini.

    Sebenarnya untuk merapatkan lagi hubungan Indonesia-Malaysia dengan TULUS dan IKHLAS adalah agak sulit (walaupun tidak mungkin), karena di kedua negara lebih mementingkan politik daripada rasa persaudaraan yang katanya Indonesia adalah Negara dengan penduduk muslim yang terbesar dan Malaysia dengan Islam Hadhari nya. Rasa politik dan kepentingan pribadi masing-masing individu dan negara masih tercermin kuat dalam hubungan Indonesia-Malaysia ini.

    Indonesia seperti terlalu lembek dengan kesalahan pemerintah, institusi ataupun individu Malaysia. Tetapi Malaysia pun menganggap mudah hal yang menyinggung perasaan orang Indonesia.

    Saya telah 5 tahun di Malaysia. 3 tahun kuliah dan 2 tahun kerja. Sebenarnya rakyat Malaysia itu tidak memandang rendah Indonesia, malahan mereka banyak yang memuji Indonesia. Tetapi terkadang media massa Malaysia sering menampilkan sesuatu yang berat sebelah, seperti pendatang haram lah, Indon melakukan kejahatan lah, yang dimana hal itu ada yang terbukti dan ada yang tidak. Tetapi dipublikasikan dan yang pasti itu merusak citra Indonesia di masyarakat Malaysia (dan saya rasa itulah maksud dari media massa Malaysia, yang notabene masih dipayungi oleh kerajaan Malaysia;Politik).

    Dan di Indonesia sendiri, pemerintahannya tidak dapat bertindak tegas. Tetapi jangan pula bertindak seperti bung Karno (Ganyang Malaysia), itu namanya ‘Bunuh Diri’ untuk zaman sekarang, bukan cara negara yang baik dan Islam. Setidaknya pemerintah Indonesia bisa lebih tegas terhadap bangsa manapun yang melakukan pelanggaran hukum ataupun sejenis penghinaan lainnya.

    Akan sangat Indah hubungan Indonesia-Malaysia seandainya semua dendam, intrik politik, dan hal yang berkaitan dengan itu dibuang. Karena bangsa Melayu (Melayu Malaysia maupun Indonesia) adalah sebuah masyarakat yang unik.

    Sesuatu hal yang masih sangat sulit untuk dipenuhi.

    wassalam

    Comment by awank | August 28, 2007 | Reply

  2. Artikel yg menarik. tetapi tidak perlu salahkan rakyat malaysia 100%. kerana hal ini lebih terkait dengan masalah politik danmedia massa.

    mungkin pembaikan boleh dicapai melalui rakyatnya sendiri? student indonesia yg belajar di malaysia, dan student malaysia yg belajar di indonesia. mudah-mudahan masing2 pulang dgn membawa khazanah utk didikan masyarakat.

    Comment by antamuSlim | September 20, 2007 | Reply

  3. ya TULUS dan IKHLAS, tapi yang benar adalah BERSYUKUR dan IKHLAS

    Comment by Ali Maksum | June 4, 2008 | Reply

  4. perhubungan Indonesia malaysia, sangat baik, tetapi janganlah kebaikan itu menjadikan provokasi yang tidak sopan dan melanggar aturan internasional, kalau nanti berperang pasti malaysia akan menangung semuanya, jangan pikir malysia backing nya Dunia barat, kalau perang ya perang saja karena negara kecil dan sombong ini telah menghina NKRI,kita indonesia tak menghina Malaysia, tak melecehkan malaysia, karena kita serumpun dan seagama, perbaikilah hubungan antara negara tanpa harus mencuri, mengakui, magklaim yang bukan wilayahnya, NKRI tidak hanya TNI yang mempunyai kekauatan milieter tetapi kekuatan rakyat semesta juga mempunyai kekuatan bersenjata, yang dapat meruntuhkan

    Comment by wahyugusti | July 24, 2008 | Reply


Leave a comment