Harapan itu Telah Tiada ?(2)
Sebelumnya saya menceritakan kegelisahan saya akan masa depan bangsa ini pasca plipres. Saya pun telah berjanji menjabarkan apa bentuk ‘ketakutan’ saya itu pada mereka satu persatu..
Mungkin sebagian orang akan mengagumi dan menghormati opini jika disajikan dengan data-data lengkap. Apalagi jika ada bumbu-bumbu statitik lengkap dengan angka-angkanya. Jika Anda termasuk di sini, Anda mungkin kan kecewa, karena opini ini lebih pada opini subjektif di mana rasional dan hati lebih banyak saling bertaut-tautan. Baiklah kita mulai saja dari kegelisahan saya pada pasangan pertama: SBY-Boediono.
Untuk SBY saya mempunyai dua kegelisahan. Pertama, afiliasi dengan saudara jauh yang punya hobby ‘usil’ dengan negara lain. Mengenai hal ini, ada dua catatan saya: (1) peristiwa memalukan penyambutan Bush. Yang saya sebut memalukan bukanlah cara penyambutan berlebihan dengan ‘mematikan’ kota Bogor saat itu, melainkan, cara SBY menunggu kedatangan Bush bak Siti Nurbaya yang ketakutan menunggu kedatangan Datuk Maringgi. Perilaku merapikan bunga di depan istana sambil berlama-lama berdiri menunggu Bush sungguhlah menjatuhkan harga diri bangsa di depan bangsa lain yang sebenarnya sekarang tidak punya taring lagi, bahkan bisa dibilang bangsa yang tinggal menunggu ajalnya saja, (2) perjanjian DCA dengan Singapura yang hampir saja terlaksana. Sykur alhamdulillah berhenti ditengah jalan, kalau tidak, entah seperti jadinya bangsa ini akan diberdaya oleh bangsa yang memag licik ini. Kedaultan hancur, rakyat di Pulau Sumatra pun nyaris terlacur oleh militer Singapur. Nauzubillah minzalik.
Itulah yang pertam mengenai SBY, kedua saya mencermati demkorasi (baca: kebebasan) telah menyelamatkan bangsa ini dari syahwat berkuasa seorang berwatak Soeharto. Atau bisa jadi, tadinya tidak berniat meniru Soeharto, tapi keadaan dan waktu dapat merubah kucing menjadi serigala. Maksudnya apa? Sebelumnya saya mengingatkan kemnali, bahwa tulisan ini adalah opini bebas, sangat subjektif , lebih bayak berintuisi, di mana kemungkinan salah itu ada. Tapi inilah bentuk ‘ketakutan’ saya. Ya, ‘kemasan’ SBY yang santun, bijak, berfisik tegap, sungguh memikat siapapun khususnya. Soeharto pun dulu begitu, semuanya dibungkus dengan apik, kelaurga yang harmonis, metode bicara dengan rakyat pada program klompencapir tentu masih kuta di ingatan kita.
Pada zaman Pak de Harto dulu, semua (khusunya rakyat biasa dan ibu-ibu rumah tangga) terkesima, terbius dengan kepemimpinan Pak De. Sampai-sampai mungkin berpikiran selain beliau tidak ada yang lain yang layak jadi presiden.
Model-model seperti ini nampaknya berulang di masa SBY, semua terpana, iklan-iklan layanan masyarkat tiap-tiap departemen bermunculan di televisi, keharmonisan eluarga ditonjolkan sungguh mirip.
Maka, kecemasan beberap tokoh akan munculnya Soeharto 2 sebenarnya sungguhlah beralasan. BOleh jadi nanti undang-undang yang membatasi masa jabatan presdien makasimal 2x 5 tahun dapat saja dirubah, diamandemen. who knows? Anything can be happened. Karena undang-undang pun buatan manusia dan memang amandemen adalah suatu keniscayaan dalam tata negara kita.
Mengenai Bediona sendiri?? bersambung dulu ya…to be continued
mohon maaf kalau ada salah pada Allah saya mohon ampun da berserah diri
Renungan di Hari Pendidikan
Renungan di Hari Pendidikan
Oleh: Dedy Purwanto
Pendiri ALIEV English School, sedang S2 di Universiti Teknologi PETRONAS Malaysia
2 Mei kembali datang. Momen ini sungguh tepat bagi Indonesia untuk kembali merenung dan bermuhasabah diri bagaimana sebenarnya sektor pendidikan telah berperan dalam jalan menuju kebangkitan dan bagaimana pula langkah yang harus dilakukan untuk perbaikan ke depan.
Mungkin kita sudah bosan menyampaikan bahwa sektor inilah sebenarnya yang menjadi kunci utama penggerak kemajuan. Namun perhatian yang besar terhadapnya seperti yang dijanjikan pemimpin–pemimpin bangsa ini dalam setiap kampanye pemilu, pilpres, atau pilkada belum juga dapat direalisasikan. Padahal pendidikanlah yang melahirkan insan-insan Indonesia baik pengusaha dan penguasa, bumiputra dan tionghoa, pemimpin dan rakyat, maupun keluarga cikeas dan cendana. Mereka inilah gambaran umum siapa-siapa saja yang mempunyai pengaruh besar sekaligus penentu arah perubahan bangsa. Generasi kemarin, sekarang, dan mendatang juga tentu dilahirkan dari sektor ini. Maka sudah sepantasnya kita kembali merumuskan sudah berhasilkah pendidikan kita membentuk manusia-manusia tangguh untuk bangsa ini? Nampaknya untuk pertanyaan ini, kebanyakan dari kita sepakat menjawab belum. Lalu marilah kita merenung dan mengevaluasi secara jujur seperti apa sebenarnya manusia Indonesia yang telah ‘diproduksi’ oleh sektor pendidikan selama ini.
Mohd Azmi Abdul Hamid, Presiden Teras Pengupayaan Melayu (TERAS) Malaysia, dalam kuliah umum (25/04/07) mengenai Free Trade Agreement (FTA) di Univesiti Teknologi PETRONAS (UTP) Malaysia, menyampaikan bahwa manusia di dunia saat ini sudah terpengaruh oleh materialisme, individulisme, dan komersialisme. Menurut pendapat saya, tiga hal ini pun dengan tepat menggambarkan sifat manusia Indonesia. Pertama adalah materialistis. Kesuksesan dan kebahagiaan hidup diukur dengan berapa jumlah mobil yang terparkir di halaman rumah, seberapa besar rumah yang didiami, asesoris dan perhiasan apa yang melekat di anggota badan, atau seberapa canggih telepon genggam yang dipegang. Secara tidak sadar, telah terjadi perbedaan status sosial berdasarkan banyak sedikitnya harta. Maka setiap orang pun berlomba-lomba mendapatkan harta sebanyak mungkin.
Kedua adalah individualis. Saya menamakannya dengan sifat ke’aku’an: yang penting aku selamat, aku sukses, aku menang, aku bahagia, aku mapan, aku juara, dan aku kaya. Manusia individualis merasa dirinya harus diutamakan terlebih dahulu dalam mencapai segalanya walaupun terkadang harus mengorbankan orang lain, masyarakat, bahkan rakyat, bangsa, terlebih agama. Kemiskinan, penindasan, huru-hara yang terjadi di sekitarnya tidak menjadi masalah baginya asalkan ia selamat. Akibatnya kepedulian sosial terhadap sesama semakin merosot.
Ketiga adalah komersialis. Semua hal dinilai dengan uang. Salah satu ilustrasinya adalah saat lulusan SMU memilih kuliah di bidang teknik bukanlah dengan tujuan untuk berkontribusi pada masyarakat dalam bidang teknologi melainkan karena bidang teknik dinilai memiliki prospek masa depan yang cerah dan menjanjikan dalam bursa kerja. Memilih fakultas kedokteran pun bertujuan untuk mencapai status sosial yang tinggi dan kemewahan , bukan untuk mengabdikan diri dengan membantu orang-orang yang sakit supaya dapat tertolong dengan baik. Begitu juga dengan pilihan menjadi PNS, polisi, TNI, arsitek, bahkan guru, semata dilakukan hanya untuk meraih apa yang disebut comfortable zone.
Lebih buruknya lagi, ketiga sifat ini ternyata juga melekat di kalangan pemimpin bangsa ini. Keteladan pun sirna. Maka wajarlah jikalau negara ini belum juga bangkit karena sang pemimpin tidak ikhlas sepenuhnya untuk mengabdikan diri bagi rakyatnya. Indonesia pun menjadi negara salah asuhan karena mereka lebih mendahulukan kepentingan-kepentingan pribadi, keluarga, dan kelompoknya. Kesan penakut, setengah-setengah pun masih melekat pada presiden. Walaupun baru-baru ini beliau membantah dirinya penakut, namun kenyataan telah berkata tidak seperti mulut manisnya yang bicara. Pesta pernikahan putranya yang megah nan mewah ditambah lagi dengan memanfaatkan fasilitas negara (istana bogor) cukuplah menjadi rekaman kuat kita bersama untuk me‘rapot-merah’kannya dalam sejarah kepemimpinan bangsa. Itulah yang terjadi jika harta, uang, dan kekuasaan menjadi tujuan bukan sarana pengabdian Apakah beliau tidak belajar dari Umar Ibnu Khattab yang rumahnya untuk dikatakan sederhana saja tidak layak?.
Sebelum dilanjutkan, sebagai rakyat, saya memohon maaf jika bahasa tulisan ini terlalu fulgar walalupun saya sudah berusaha untuk meminimalisasi kefulgaran itu. Namun inilah salah satu wujud pengabdian saya dengan prinsip saling mengingatkan sehingga dapat menjadi bahan renungan. Pemimpin bangsa yang dewasa dan open mind tentu akan menyikapi setiap kritikan seperti ini dengan bijaksana.
Sebenarnya tidak hanya presiden, kebanyakan –alhamdulillah masih ada yang berdedikasi- elit (wapres, menteri, ketua MA, gubernur, dan walikota) masih terjebak dalam lingkaran setan: materialis, individualis, dan komersialis. Masalah kepemimpinan inilah sebenarnya yang menjadi akar permasalahan bangsa. Ketika pemimpin sudah kehilangan hati nurani dan sifat devotis, usaha apapun untuk perbaikan bangsa ini akan sulit berhasil.
Devotis
Devotis sendiri berasal dari kata dalam bahasa Inggris: devote, mengabdi. Manusia devotis selalu berpikiran bagaimana hidupnya diabdikan untuk Tuhannya. Turunan dari pengabdian pada Tuhan ini akan menjadi dorongan yang besar untuk tidak pernah menyia-nyiakan segala potensi yang dimilkinya baik harta, ilmu, waktu, dan kekuasaan dalam rangka menjemput kematian yang indah. Sehingga niat-niat untuk menumpuk harta, mempertahankan kekuasaan berusaha dibuang sejauh-jauhnya dari hati. Kepentingan, tekanan, dan intervensi negatif dari luar juga akan disikapi dengan tegas oleh pemimpin devotis. Ini mungkin terkesan idealis dan aneh bagi insan Indonesia era sekarang yang sudah sangat dipengaruhi materialisme, indivdulaisme, dan komersialisme.
Devotis dalam Islam
Terkait devotis dan kempimpinan, Islam sudah sejak lama mengajarkan pada umatnya tentang misi penciptaan manusia. Pertama adalah untuk menjadi pemimpin di muka bumi (Q.S Al Baqarah:30). Tuhan memberikan akal dan ilmu pengetahuan kepada manusia untuk selanjutnya digunakan sebesar-besarnya untuk kebutuhan dan kesejahteraan umat manusia di muka bumi. Kedua adalah untuk mengabdi kepada Allah (Q.S Az-zariyat:56). Manusia sadar sepenuhnya bahwa dirinya tidak memiliki daya dan upaya tanpa pertolongan Allah sehingga ia akan secara penuh menghambakan diri padaNya.
Kedua hakikat penciptaan inilah sebenarnya yang harus ditanamkan kepada insan Indonesia melalui sekolah-sekolah. Perubahan mendasar perlu dilakukan pada kurikulum, tujuan dan model pengajaran sehingga semua insan mengerti untuk apa dia menuntut ilmu dan hidup di dunia. Sekolah bukan hanya untuk mengejar nilai Ujian Nasional (UN) yang bagus, sekolah dan universitas favorit, atau juga pekerjaan dan kehidupan yang mapan. Namun mereka harus diajarkan bahwa tujuan dari semuanya adalah untuk pengabdian kepada Tuhan lalu diturunkan menjadi pengabdian mulia terhadap bangsanya. Sekali lagi, bangsa yang sedang sakit dan butuh kerja keras ini membutuhkan mereka, manusia devotis!
Hilangnya Dua Ilmu di Era Kemerdekaan
Hilangnya Dua Ilmu di Era Kemerdekaan
Oleh:
Dedy Purwanto
Aktivis PPI se-Malaysia, Mahasiswa S2 Universiti Teknologi PETRONAS Malaysia
Bulan Agustus datang kembali. Mungkin banyak yang belum mengetahui bahwa ternyata bulan ini tidak hanya spesial bagi rakyat Indonesia, tapi juga bagi negeri jiran, Malaysia. Indonesia memperingati hari kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus, sedangkan Malaysia pada tanggal 31 Agustus. Sungguh suatu kebetulan yang menarik: dua negara yang bersahabat dan sangat dekat baik secara geografis maupun budaya masyarakatnya ternyata merdeka dalam bulan yang sama. Dalam segi usia, Indonesia memang lebih senior dibandingkan Malaysia. Tahun ini merupakan ulang tahun emas (50 tahun) mereka dan ulang tahun kita yang ke-62.
Namun Anda pasti sudah bisa menerka, kalimat selanjutnya dari tulisan saya ini. Ya! Mengapa kita yang lebih berpengalaman (senior) ini malah jauh tertinggal dalam kemajuan ekonomi, teknologi, dan bidang lainnnya. Data UNDP 2003 menunjukkan, dalam World Economic Forum (103 negara), Indonesia berada pada peringkat 72 sementara Malaysia pada peringkat 29. Sungguh menggelisahkan, rakyat yang serupa (perawakan fisik, bahasa, dan budaya), namun bernasib berbeda. Padahal kemerdekaan yang berhasil kita raih jauh lebih terhormat dan heroik. Berapa banyak tulang-tulang yang berserakan (meminjam puisi Chairil Anwar) dan darah-darah segar mujahid-mujahidah yang mengalir di tangan agresor untuk mempertahankan tanah air sehingga akhirnya proklamasi kemerdekaan pun berkumandang. Berbeda dengan negara Mahathir yang merdeka hanya dengan melalui jalur diplomasi dan perjanjian.
Sudah saatnya kita berpikir objektif di usia negara kita yang sudah uzur ini. Apa sebenarnya penyebabnya hingga rakyat pun menderita berkepanjangan hingga sekarang. Tun DR Mahathir Muhammad dalam ceramah hari kemerdekaan Malaysia (13/08/07) di Universiti Teknologi PETRONAS, Malaysia, menyampaikan bahwa korupsi telah menjadi budaya dan hal yang biasa di ‘negara-negara tertentu’. Walaupun dengan menggunakan kata jamak, peserta yang hadir pada acara tersebut termasuk saya dapat langsung menginterpretasikan bahwa yang dimaksud adalah negara kita, Indonesia. Beliau mengingatkan bahwa negara tidak akan maju jika dipimpin oleh para koruptor. Perbaikan moral merupakan solusi yang beliau sajikan untuk menghadapi isu korupsi.Ada benarnya memang solusi yang yang beliau sampaikan. Namun seperti apa detilnya nampaknya menjadi bias dan setiap orang akan mempunyai tafsir yang berdeda-beda. Untuk bangkit menjadi negara maju, saya mengambil referensi dari ajaran Islam. Di dalam Islam, ada dua kategori ilmu yang bersumber dari Tuhan dan harus dikuasai oleh manusia agar selamat dan bahagia dunia-akhirat. Ilmu ini juga yang akan menjelaskan bagaimana negara-negara barat dapat maju dari segi tertentu dan terbelakang dari segi yang lain dan juga bagaimana Malaysia dapat lebih maju dari Indonesia.Pertama adalah ilmu kauliyah, adalah ilmu tertulis yang langsung bersumber dari Tuhan yaitu Al-Quran dan Hadist Nabi. Malaysia yang mendeklarasikan dirinya sebagai negara Islam masih memegang kuat ilmu ini dan rata-rata masyarkatnya pun lebih mematuhi perintahNya dibandingkan dengan masyarkat Indonesia. Di sekolah-sekolah serta instansi publik dan pemerintah, bisa dilihat bagaimana caranmereka berpakaian. Mereka masih sangat mencintai budaya melayu yang sangat dekat dengan budaya Islam. Sehingga kesantunan dan moral pun lebih berwarna di tanah para sultan ini. Sehingga nampaknya rahmat Allah pun lebih melimpah di Malaysia seiiring dengan tetap dipegangnya kecintaan negara dan masyarkatnya terhadap Islam. Sementara di tanah air kita, simbol-simbol Jawa ala Majapahit lebih disukai menjadi keunikan yang tidak terlalu berarti. Lihat saja, saat pertama kali seorang asing menginjakkan kaki di bandara ibukota Jakarta, patung khas Majapahit akan menyambut tamu yang datang ke pusat negara. Sehingga seakan-akan kebudayaan lain bukan bagian dari Indonesia. Saya tidak bermaksud tidak mengizinkan Majapahitisme, tapi mengingatkan bahwa aneka kekayaan budaya lain jangan dibiarkan mati. Kedua, kauniyah. Yakni ilmu yang bersumber dari Allah dan ‘tertulis’ di alam semesta: tubuh manusia, laut, daratan, hingga luar angkasa. Umat muslim seharusnya juga menyadari bahwa ilmu ini juga menjadi kewajiban untuk dipelajari dan diamalkan. Maka wajarlah negara barat lebih maju dalam teknologi dan ekonomi di mana ilmu ini benar-benar maereka kuasai. Nilai-nilai positif seperti disiplin, good governance yang bersumber dari akal ciptaan Tuhan pun mereka kuasai. Namun masyarkat barat mundur dalam hal sosial dan spiritual (didapat dari sumber kauliyah). Sehingga mereka tidak mempunyai pegangan dan tujan hidup yang jelas, akhirnya kehampaan hidup pun mendera. Angka bunuh diri, minuman, keras, seks bebas pun menjadi citra buruk mereka di mata dunia.Sungguh indah sebenarnya Islam yang mencakup keseluruhan dalam segenap segi kehidupan. Sehingga mereka yang mengamalkannya dengan benar mempunyai pedoman yang sempurna. Sementara kita di Indonesia telah meninggalkan kedua ilmu tersebut. Di negara kita bisa dilihat jika ada pemimpin yang mencoba memperbaiki moral masyarakat dengan kebijakan pelarangan pelacuran, minuman keras, hiburan malam bermasalah yang dekat dengan narkoba dan AIDS, maka penentangan terhadap kebijakan tersebut akan muncul. Dengan dibantu oleh media, kalangan ekstrimis liberal yang sangat tidak demokratis karena terlalu taklid buta dengan islamophobia nampaknya memang telah berperan besar dalam penghancuran tatanan masyarakat yang ingin kembali pada nilai-nilai moral yang universal. Sehingga RUU APP (Anti Pornografi-Pornoaksi) yang dapat melindungi anak-anak penerus bangsa dari buaian lamunan keindahan seksual yang terlalu dini pun masih terkatung-katung nasibnya di tangan-tangan wakil rakyat di parlemen. Nampaknya umat muslim Indonesia benar-benar telah mengalami tirani mayoritas sehingga tidak dapat mengamalkan ajaran agamanya dengan tenang dan sempurna.Ilmu kauliyah tidak di tangan, ilmu kauniyah pun melayang. Dalam hal Human Developemnt Index (HDI)) misalnya, data UNDP 2003 juga menunjukkan Indonesia berada pada peringakt 110 dari 175 negara. Lalu, melihat kondisi seperti ini, dapatkah kita mengambil pelajaran di hari kemerdekaan ini? Mahathir Muhammad masih dalam kesempatan yang sama, dalam menjawab sebuah permintaan peserta untuk memberikan pesan terhadap Indonesia, mengatakan bahwa Indonesia membutuhkan tidak hanya satu, tapi ratusan pemimpin yang tidak mementingkan diri sendiri. Tentunya pemimpin ini adalah pemimpin devotis (mengabdi) yang mengerti makna penciptaan dirinya untuk menjadi khalifah dan mengabdi pada Allah SWT dengan secara komprehensif menjaga keseimbangan pengamalan imu kauliyah dan kauniyah. Sehingga Allah pun cinta kita dan kita menjadi maju karena mengambil sudut maju positif barat dan timur bukan sebaliknya malah mengambil sudut terbelakang barat belaka.
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!
-
Archives
- May 2009 (2)
- August 2007 (9)
-
Categories
-
RSS
Entries RSS
Comments RSS
